Friday, August 26, 2016

Terima Kasih Pak Jokowi. 71 Tahun Merdeka, Hari Ini Papua Baru Nikmati Premium Rp. 6500 per liter


Dunia Hawa - PT Pertamina (Persero) kembali menghadirkan Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di dua kabupaten di pedalaman Papua yakni Kabupaten Memberamo Raya dan Nduga, mulai hari ini, Rabu (24/8/2016).

"Terima kasih pak Jokowi, terima kasih Pertamina, setelah 71 tahun merdeka, kami masyarakat di Kabupaten Memberamo Raya, Papua ini baru saat ini merasakan harga BBM murah," kata Pejabat Bupati Memberamo Raya, Derek Hegemur saat meresmikan Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Kasanaweja, Ibukota Memberamo Raya, Papua, Rabu (24/8/2016) .

Menurut Derek Hegemur, hingga saat ini harga BBM di kabupaten tersebut sangat mahal yakni Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per liter. Kemahalan ini terjadi karena belum ada APMS, tetapi saat ini Pertamina sudah mendirikan APMS sehingga harga BBM di tempat itu sama dengan harga BBM di seluruh Indonesia.

"Ini baru kami rasakan arti kemerdekaan harga BBM," katanya.

Sementara itu, Manager Retail Pertamina MOR VIII Maluku Papua, Zibali Hisbul mengungkapkan, setelah tangga 17 Agustus 2016 Kabupaten Puncak Papua dan Kabupaten Pegunungan Arfak Papua Barat didirikan APMS, kemudian hari ini kembali diresmikan APMS di Kabupaten Memberamo Raya dan Nduga .

"Ini sebagai pelayanan pemerintah kepada masyarakat Papua yang selama ini hanya menikmati harga BBM yang mahal yakni antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per liter, sekarang harga BBM di daerah itu sama dengan daerah lain di Indonesia," ujarnya.

Dikatakan Zibali, kuota BBM untuk Kabupaten Memberamo Tengah yang sudah ditetapkan yakni 40 kiloliter (KL), terdiri dari 30 KL untuk premiun dan 15 KL untuk solar. 

"Ini BBM yang disubsidi pemerintah yang dijual melalui APMS, tetapi untuk solar industri harga beda," sebutnya.

Mendengar adanya harga BBM murah di Kabupaten Memberamo Raya, masyarakat menyambut baik. 

"Terima kasih kami sudah dikasih harga bensin murah, selama ini kami membeli bensin seharga Rp 20.000 per liter, sekarang sudah Rp 6.500," kata Fransko seorang tukang ojek di Kasanaweja kepada DetikFinance, usai mengisi BBM di AMPS CV Memberamo Raya Mandiri.

[oktrus]

Tolak Ahok, Deklarasi ‘Rumah Amanah Rakyat’ Dibanjiri Tokoh Nasional


Dunia Hawa- Sejumlah tokoh nasional menghadiri acara deklarasi Rumah Amanat Rakyat di Jalan Cut Nyak Dien, Nomor 05, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu (24/8) kemarin.

Rumah Amanah Rakyat ini dimaksudkan sebagai basecamp untuk menciptakan pemimpin nasional yang beradab.

Di antara tokoh yang hadir adalah Jenderal Purn Djoko Santoso, Irjen Pol Purn Taufiqurrahman Ruki, Rizal Ramli, Bambang Wiwoho, Habil Marati, Heppy Trenggono, M. Hatta Taliwang, Mayjend TNI Pur Prijanto, Lily Wahid, H Lulung Lunggana dan Yusril Ihza Mahendra.

Acara diawali dengan pemotongan tumpeng deklarasi oleh Lili Wahid. Ada pun potongan tumpeng diberikan kepada perwakilan warga korban gusuran Pasar Ikan, khususnya warga di Rt.03 Kampung Aquarium yang diterimakan oleh Musdalifah.

Dalam sambutannya, Mantan Panglima TNI Djoko Santoso mengharapkan Rumah Amanat Rakyat dibangun satu di setiap RT sehingga bisa menyerap aspirasi rakyat dan membicarakan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat, bangsa dan negara. 

Gerakan ini, kata dia jangan sampai hangat hangat-hangat di awal kemudian hilang.
"Rumah Amanat Rakyat ini jangan terlalu mewah-mewahlah. Intinya, bisa menyerap aspirasi masyarakat kita kemudian dikemukakan ke hadapan publik," ujar Djoko.

Sementara itu, inisiator Rumah Amanah Rakyat, Ferdinan, mengatakan, deklarasi tersebut sebagai gerakan pencerahan untuk masyarakat agar memilih pemimpin yang pancasilais, jujur, bersih, tegas, cerdas dan beradab. Oleh karena itu diperlukan tempat sebagai fasilitas berjuang bersama, ujar Ferdinan.

"Agar Jakarta dipimpin oleh orang cerdas dan beradab. Bukan pemimpin yang tidak bisa menjadi teladan bagi seluruh masyarakat," papar Ferdinan, disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Pakar hukum yang juga bakal calon gubernur DKI Jakarta, Yusril Ihza Mahendra, tidak ketinggalan menyampaikan dukungan atas kehadiran Rumah Amanah Rakyat.
“Rumah ini menjadi tempat menyampaikan aspirasi masyarakat khususnya masyarakat yang tertindas dan terzalimi. Menjadi komitmen kita bersama mencari jalan keluar permasalahan masyarakat,” tukas Yusril.



[newsth]

Isunya Ratusan Massa. Faktanya, Yang Turun Demo Tolak Ahok Hanya Puluhan Orang


Dunia Hawa - Ratusan massa yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) akan menggeruduk Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat.

"Intinya satu kita hanya ingin PDIP tidak mendukung Ahok. Tolak Ahok," ujar Koordinator Aksi, Rasdullah, Kamis (25/8/2016).

Dia menjelaskan, titik kumpul massa aksi direncanakan akan berpusat di Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. "Massa sebagian besar menaiki kereta, ada ratusan. Nanti kumpulnya di Stasiun Cikini langsung menuju ke DPP PDIP," tegasnya.

Pantauan di lapangan, nampak beberapa aparat kepolisian telah berjaga di sekitar Stasiun Cikini dan kantor DPP PDIP.

Aksi bersama warga kampung kota, becak, nelayan, dan pedangan kaki lima yang sejatinya digalang oleh Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) direncanakan akan menyampaikan aspirasinya terkait arah dan langkah dukungan PDIP dalam Pilkada DKI yang sinyalnya menguat untuk mendukung gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. 

Namun faktanya hanya Puluhan orang dari gabungan organisasi kemasyarakatan (ormas) melakukan aksi menolak Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Aksi ini dilakukan di depan Gedung DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sekitar pukul 10.00 WIB. 

Massa yang membawa spanduk bertuliskan "Tolak Ahok Gubernur Tukang Gusur" langsung melakukan orasi. Mereka meneriakkan yel-yel penolakan terhadap Ahok.

Rasbullah, salah satu orator mengungkapkan kekecewaaannya terhadap Ahok. Menurutnya, Ahok hanya melakukan aksi penggusuran tanpa memikirkan nasib masyarakat.

"Ini Ibu Kota Jakarta, bukan Ibu Kota Ahok," kata Rasbullah di Jakarta, Kamis.

Rasbullah melanjutkan, Ahok tak pernah mau berdialog dengan warganya. Sehingga tak ada ruang untuk berdiskusi dan menghasilkan kebijakan yang menyakitkan rakyat.

Sementara itu, Shinta dari Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), mengatakan kedatangannya ke DPP PDI-P untuk menyampaikan aspirasi ke Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri agar tidak mengusung Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Kami ke sini meminta pada Ibu Megawati supaya beliau tidak mendukung Ahok paada pemilihan gubernur mendatang. Semoga ibu Mega bisa mendengarkan tuntutan dan aspirasi kita," tegas Shinta.

Hingga pukul 10.20 WIB, aksi unjuk rasa masih berlangsung. Penjagaan ketat dari kepolisian pun masih dilakukan.



[beritateratas]

Thursday, August 25, 2016

Mengaku Dapat Wangsit dari Gunung Kawi, Lakukan 'Tapa Pepe' di Kantor PDIP Untuk Tolak Ahok


Dunia Hawa - Lelaki asal Gunung Kawi, Malang, bernama Djoemali Darmokondo (48) bersama tiga orang beraksi di depan kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (24/8/2016). Aksi mereka dinamakan Tapa Pepe.

Kemudian tiga rekan Djoemali beraksi duduk sambil bermain wayang. Ketiga orang ini tak mengenakan baju.

Selanjutnya, Djoemali menyiramkan tepung dan air berwarna merah ketiga rekannya.

Djoemali mengatakan aksi ini sebagai bentuk protes rakyat kepada penguasa atas kondisi bangsa yang tidak stabil. 

Ia menceritakan pada zaman kerajaan Majapahit, tradisi Tapa Pepe atau berjemur beramai-ramai juga dipakai untuk menyampaikan aspirasi kepada raja di alun-alun keraton.

"Artinya Tapa Pepe itu berjemur, jika kondisi tidak harmonis, itulah rakyat berkuasa, maka para rakyat jelata yang menyampaikan aspirasi di alun-alun, di pendopo agung ini biasanya ditemui oleh rajanya, kemudian raja menyampaikan apa maumu, apa kehendakmu? Ada persoalan apa?" ujar Djoemali.

"Elit-elit kerajaan punya persoalan seperti di sektor agraria, pertanian kekeluargaan dan mentalitas dan itu biasanya dengan Tapa Pepe. Malamnya mereka juga ritual doa karena bagaimana pun yang namanya penguasa raja di pendopo ini adalah representasi dari illahi. Tuhan pun merepresentasikan untuk menghargai orang-orang miskin," Djoemali menambahkan.

Djoemali dan rekan-rekan sengaja datang ke DPP PDI Perjuangan karena mendengar partai ini akan mengusung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di pilkada Jakarta periode 2017-2022. Wacana tersebut muncul di tengah penolakan sebagian warga yang menganggap Ahok memimpin tidak dengan cara santun dan tidak konsisten, bahkan cenderung seperti kutu loncat, pindah dari satu partai ke partai lain.

"Saya dapat ilham dari lereng Gunung Kawi disuruh ke sini (PDI Perjuangan), yang menyatakan bahwa PDI Perjuangan telah kehilangan telunjuk atau arah," katanya.

Menurut pengamatan Suara.com aksi tersebut sempat membuat kemacetan lalu lintas di depan kantor PDI Perjuangan.

Aparat kepolisian sampai meminta Djoemali dan kawan-kawan berhenti aksi karena dianggap tidak memiliki izin.

[suara]