Thursday, December 8, 2016

Penistaan Vs Penafsiran

DUNIA HAWA - Kehebohan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok sebaiknya menjadi momentum bagi kita untuk menengok kembali apa sebenarnya penistaan agama? Bagaimana suatu tindakan dapat disebut sebagai penistaan? Lebih jauh dari itu, apa dampaknya bagi kehidupan beragama?

Amnesti Internasional pada tahun 2014 merilis sebuah laporan mengenai tema ini. Setidaknya ada 39 kasus penistaan agama dalam kurun waktu 2005-2014. Beberapa di antaranya cukup terekspos. Lia Eden, yang mengklaim diri sebagai pemimpin Tahta Suci; dan Tajul Muluk, yang mengatakan bahwa al-Qur’an yang sekarang dipakai oleh kaum muslim tidak lagi asli, adalah beberapa kasus yang cukup populer.


Selain itu ada beberapa kasus yang mungkin juga agak bermasalah. Seperti FX Marjana yang oleh PN Klaten dinyatakan bersalah karena mengatakan Islam sebagai agama yang suka konflik dan sekte-sektenya yang beragam merupakan buktinya. Atau Yusman Roy, yang memperkenalkan salat dengan bahasa Indonesia.

Hal-hal di atas perlu dibandingkan dengan apa yang sering berlaku dalam umat beragama. Apa yang, untuk sekian lama, dianggap wajar oleh pemeluk agama.

Sebagai contoh, umat Islam, sesuai petunjuk yang ada dalam al-Qur’an, menganggap kitab-kitab sebelumnya sudah alami perubaahan. Konsep ini sering diutarakan dalam berbagai ceramah dan kajian. Apakah penceramah-penceramah tersebut hendak dipidanakan? Apa bedanya dengan perkataan Tajul Muluk di atas?

Buku-buku sejarah kebudayaan Islam banyak mengupas cerita perang. Sebab umum dan sebab khusus perang. Perang untuk mempertahankan diri hingga perang penaklukan. Sejak jaman kenabian sampai masa kekhalifahan. Ditulis dengan cukup ilmiah.

Juga ada, buku karangan Syahrastani yang mengupas kemunculan sekte-sekte Islam berjudul al-Milal wa al-Nihal. Pertanyaannya, apakah pengarang-pengarang buku tersebut hendak dipidanakan karena ungkapkan fakta? Tentu saja tidak. Lantas, apa bedanya dengan FX Marjana di atas?

Ahli tafsir tersohor bernama al-Zamakhsyari berpendapat bahwa Muhammad muda tidak menyembah Tuhan sebagaimana yang ia sembah setelahnya. Menurutnya, Muhammad Saw baru bertauhid setelah diutus menjadi Nabi. Pendapat itu diutarakan ketika menafsirkan surat al-Kafirun dalam buku tafsirnya al-Kasysyaf.

Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada yang anggap pendapat al-Zamakhsyari sebagai penistaan ataupun penghinaan agama. Respon yang cukup pedas hanyalah cap “su’ul adab” (tidak beretika), seperti yang dikatakan oleh Abu Hayyan dalam al-Bahr al-Muhith.

Menurut saya, kasus-kasus penistaan tersebut hanyalah penafsiran. Penafsiran atas teks-teks keagamaan. Beberapa menafsirkan secara mainstream. Beberapa melakukannya secara kontroversial. Beberapa mungkin melakukannya dengan cara yang jauh "menyimpang". Tapi tetap saja, sulit untuk menganggapnya sebagai penistaan.

Mayoritas ulama membolehkan khutbah Jumat dengan bahasa Indonesia. Itulah contoh penafsiran. Tentu saja tidak masalah dan bukan penistaan. Yusman Roy menafsirkan bahwa dibolehkan salat dengan menggunakan bahasa Indonesia. Nasibnya? dia bermasalah dan (dianggap) bersalah. Adilkah?

Jadi, ini hanya soal apakah penafsiran Anda berlawanan dengan arus utama atau tidak. Kalau berlawanan, Anda terancam dianggap menista.

Selama ini, dua institusi yang menentukan Anda sesat atau tidak adalah Bakor Pakem (Badan Koordinasi Aliran Keagamaan dan Kepercayaan) dan MUI. Yang terakhir, meskipun institusi non-pemerintah, tapi memiliki otoritas yang lebih dibanding yang pertama.

Selain penafsiran atas teks, ini juga berkaitan dengan penafsiran atas batasan umum-khusus, eksternal-internal.

Penceramah agama yang sebut kitab suci agama lain sudah tidak asli, barangkali tidak dianggap menista karena melakukannya di kalangan internal. Pertanyannya, bagaimana memilah kategori internal dan eksternal?

Dalam bahasa hukum “di muka umum” itu apa batasnya? Apakah ceramah internal yang kemudian tersiar di “udara” masih bersifat khusus? Apakah sulit bagi umat agama lain untuk akses ceramah yang berisi hal-hal tersebut di Youtube, misalnya?

Yang demikian harus segera ditinjau kembali. Jangan sampai pasal penistaan agama berdampak buruk pada agama itu sendiri. Mungkin ada yang berdalih bahwa pasal ini justru melindungi agama. Betul, tapi hanya untuk agama mayoritas, itupun hanya dalam penafsiran arus utama.

Jika dibiarkan liar, penafsiran agama terancam alami kejumudan. Ia berjalan dengan sangat lambat. Ada perasaan tidak aman ketika seseorang menemukan “celah” penafsiran yang sedikit berbeda. Jika dibiarkan berlarut-larut, sulit ditemukan lagi perdebatan akademik yang memperkaya penafsiran.

Orang-orang yang saya sebut di atas adalah prisoners of conscience (tahanan nurani). Mereka yang miliki keyakinan tertentu, tidak melakukan kekerasan atau ajarkan kekerasan; tapi ditahan hanya karena dianggap menyimpang dari arus utama. Bukankah yang demikian harus diakhiri?

@miftakhur risal



Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Jakarta. Guru Madrasah. Menggemari kajian keagamaan, bahasa Arab, dan film.

Membandingkan Gerakan Habib Rizieq dan Rio Dewanto

DUNIA HAWA - Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang sedang naik daun ini “Habib Rizieq”.  Sebutan “Imam besar” Front Pembela Islam (FPI) menjadi sosok yang dielu-elukan dan berhasil menjadi “Imam Besar” penggerak aksi bela Islam Jilid 1 hingga Jilid III yang hasil klaimnya pada aksi bela Islam 212 lalu mencapai 7 juta jiwa.


Habib Rizieq bukanlah orang baru yang muncul ke permukaan. Nama Habib Rizieq dahulu sempat dikenal publik karena pada tahun 2003 ia pernah divonis hukuman penjara selama 7 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Ia terbukti secara sah dan meyakinkan menghasut untuk melawat aparat keamanan dan memerintahkan untuk merusak sejumlah tempat hiburan di ibu kota. Selain itu, ia juga divonis 1,5 tahun penjara pada 2008 terkait insiden berdarah di Monas.

Alih-alih meredam aksinya, gerakan FPI yang dikomandoi Habib Rizieq kembali melakukan dakwah yang kian kontroversial. Tak heran, beberapa ceramahnya yang diunggah di Youtube terkesan menyinggung kelompok agama dan etnisitas lain, bahkan para ulama Islam pun dia sindir dengan kata-kata yang kurang pas keluar dari mulut seorang “habib”.

Semangat jihad yang kerap ia gunakan dalam dakwahnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengikutnya ataupun yang baru mengenal sosoknya. Gaya perpakaiannya yang kerap menggunakan sorban dan memakai pakaian serba putih dari atas hingga bawah, menjadi ciri khas dirinya. Belum lagi gaya bicaranya yang meledak-meletup, membuat jantung terkejut bagi mereka yang baru mengenal Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI ini.

Kesuksesannya mengajak umat Islam untuk demo membela Islam, menempatkan nama Habib Rizieq sebagai ulama yang fenomenal, yang setiap ceramahnya dinanti-nantikan umat Islam. Meme-meme pun kian di-reply dan dibagikan ke media sosial. Salah satu yang terkenal adalah meme bertulisakan: “Banyak ulama yang bisa mewakili karakter Abu Bakar, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, namun hanya satu yang bisa mewakili Umar bin Khatattab yaitu Habib Rizieq Syihab.”

Sosok yang lain, yang coba saya bandingkan adalah Rio Dewanto. Aktor sekaligus bintang iklan ini mungkin tidak sepopuler dan tidak serelijius Habib Rizieq.

Namun pria yang memiliki tato di lengannya itu tiba-tiba menjadi perhatian para pengguna Instagram, karena dirinya me-repost akun instagram Serikat Petani Indonesia (SPI) yang menampilkan seorang petani yang badannya berdarah-darah karena aksi kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi/TNI di Desa Mekar Jaya Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada 11 November lalu. Ia memberikan caption":

“Hey oknum aparat, janganlah kau jadi budak asing!!! Ini saudara kalian juga.”

Sontak pria yang bermain film Filosofi Kopi ini pun mendapatkan 26 ribu like dan tidak sedikit yang mendukungnya. Singkat cerita, sebagai bagian dari wujud kepeduliannya, Rio Dewanto pun mendatangi markas Serikat Petani Indonesia (SPI) di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta, untuk mengetahui lebih jauh peristiwa kekerasan yang melanda petani tersebut.

Kedatangan Rio Dewanto nampaknya cukup spontan. Bahkan saat berdiskusi dengan rekan-rekan SPI, Rio menjelskan bahwa kedatanganya tidak ada kepentingan dan maksud yang lain. Kedatangan dia hanya wujud keoprihatinannya atas kekerasan yang dialami para petani di Langkat.

Rio pun membangun kampanye dan opini publik melalui media sosial dengan pernyataan sikapnya yang menolak penggusuran lahan petani. Ia memakai topi petani yang di belakangnya terdapat bendera merah putih, Serikat Petani Indonesia (SPI) dan la via Campesina (organisasi petani internasional) di kantor SPI pusat.

Sebagai tindak lanjutnya, ia melakukan konfrensi pers di Kafe Filosifi Kopi dan menegaskan komitmennya untuk mendorong agar pemerintah tidak represif terhadap petani. Rio menyatakan bahwa ia bersama pengacaranya pun siap “turun ke lapangan” di Desa Mekar Jaya, Langkat, untuk mengawal dan mencarikan solusi hukum atas konflik agraria yang terjadi di sana.

Saya kembali mencoba membandingkan kedua sosok ini, meskipun Rio Dewanto bukanlah seorang ulama, namun dia turut memberikan perhatiannya pada kasus kemanusiaan petani di Langkat. Di tengah aksi seorang Habib Rizieq yang terus mengawal kasus Ahok dan mendapatkan dukungan dari jutaan umat Muslim di Indonesia, Rio justru mengambil isu yang tidak menjadi perhatian masyarakat banyak.

Kepekaan Rio terhadap kasus kemanusiaan di Langkat Sumatera Utara menjadi pertanyaan besar bagi saya, kenapa Rio kok mau ambil bagian dalam kasus ini? Kenapa dia tidak ikut berjuang di aksi bela Islam tiap episodenya dan mengawal kasus Ahok yang sudah ditetapkan tersangka namun harus dipenjara sesuai dengan tuntutan massa?

Rio Dewanto mungkin “orang baru” yang latar belakangnya seorang Aktor yang kini mencoba turun menjadi seorang aktivis. Namun bak rasa haus dahaga di tengah gurun pasir, sosok Rio Dewanto hadir membantu rekan-rekan aktivis petani untuk melakukan advokasi dan memperjuangkan petani di Langkat yang mengalami kekerasan fisik.

Rio mungkin berpikir, kasus Ahok yang hanya karena “ucapannya” itu telah mendapatkan dukungan dab dikawal oleh jutaan orang. Sementara itu, kasus petani ini tidak mendapatkan perhatian dari ulama, atau dari seorang “Habib” sekali pun. Tidak ada gerakan nasional mengawal kasus kekerasaan petani di Langkat, dan tidak ada pula aksi doa bersama agar kekerasan petani di Indonesia dihapuskan.

Gerakan Habib Rizieq dengan GNPF MUI-nya, mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat karena alasan “Membela Islam”, sementara Rio dengan aksi spontannya dalam memperjuangkan petani di Langkat atas nama “Kemanusiaan Membela Petani” belum mendapatkan perhatian negara dan masyarakat.

Rupanya, Rio bersama rekan-rekan aktivis petani harus memutar otak agar perjuangan untuk petani mendapatkan perhatian yang lebih serius. Teruslah Berjuang.

@rholand muary


Mahasiswa Magister Sosiologi USU


Kita yang Beragama Seharusnya Malu pada Ateis

DUNIA HAWA - Saat ini Indonesia sedang berduka. Warga Aceh terkena gempa 6,5 skalarichter. Tetapi, rasanya berita duka tersebut hanya ditelan mentah-mentah oleh sebagian masyarakat, karena saat bencana tersebut terjadi, muncul berita adanya pembubaran KKR Natal di Sabuga, Bandung oleh kelompok ormas PAS (Pembela Ahlus Sunnah).


Pengguna akun di media sosial, seperti Twitter, Ask.fm, dan Facebook kebanyakan lebih menyuarakan kekecewaan mereka tentang pembubaran KKR Natal itu sendiri daripada berdiskusi sehat tentang apa yang terjadi pada warga Aceh. No symphaty. No empathy. Setiap dari mereka membenarkan pengetahuan agamanya kepada masing-masing rival.

#RIPHUMANITY. Hanya itu tanggapan saya ketika melihat riuhnya intoleransi yang terjadi di masyarakat kita. Yang lebih menyebalkan lagi, berita pembubaran KKR Natal ini dikait-kaitkan dengan aksi demo 212 yang terjadi beberapa hari lalu.

Entahlah ... kasus penistaan agama terjadi di mana-mana dan semuanya selalu dihubungkan dengan kasus yang menimpa Ahok sekarang. Semua berkoar-koar menyalahkan apa yang dilakukan rivalnya tentang agama yang dianut, sampai lupa bahwa saudara kita, warga Aceh membutuhkan uluran tangan kita.

Sibuk mempermasalahkan tentang perbedaan yang memang akan selalu menjadi bahan perdebatan karena memang ketika berbeda bukan berarti tidak mencapai tujuan yang sama kan? Mungkin benar kalau ada yang mengatakan bahwa akar dari permasalahan ini adalah sebenarnya tentang pendidikan.

Secara teoretis kita diajarkan tentang untuk menghargai agama lain, tetapi pada praktiknya guru pun mostly orang yang fanatik terhadap agamanya sehingga dalam mengajarpun terselipkan ajaran-ajaran doktrin agama di bidang yang dia ajar.

Saya mau mengambil contoh yang saya alami sendiri. Sebut saja dia guru besar. Dia mengajar di bidang bahasa inggris. Dia adalah sosok guru yang pribadinya sangatlah taat Islam. Poin humornya adalah, dia sangat tidak toleran kepada murid yang beragama selain islam. Nilai yang diberikan oleh guru tersebut sangatlah tidak adil. Kalau sekarang mau berdebat, tentang apa sih yang salah dari pendidikan kita? Karakter.

Apa lagi yang salah? Ini yang ingin saya tanyakan sebenarnya, mengapa sekolah yang ada di Indonesia hanya mengajarkan satu agama saja? Di sekolah negeri, kita belajar tentang agama islam. Karena kebanyakan dari kita merupakan umat muslim. Lalu yang minoritas, seperti agama nasrani dipisahkan sendiri kelasnya lalu dibuatkan jadwal sendiri untuk belajar agama yang mereka anut. Lalu, yang beragama Buddha dan Hindu bagaimana?

Ini terjadi dalam hidup saya. Saat saya SMP, saya memiliki teman beragama Hindu. Yang menyedihkan, di sekolah kami waktu itu, tidak ada guru agama Hindu. Akhirnya, ketika pelajaran agama Islam berlangsung, teman saya ini pergi ke perpustakaan. Bagaimana dengan nilai agamanya yang di rapor? Ya, tentu tahu sendiri bagaimana ketika nilai siswa kurang, bagaimana guru mencoba memanipulasi agar nilainya terangkat.

Miris ya? Agama menjadi doktrin banyak orang karena dianggap sebagai pedoman hidup sampai lupa bahwa banyak sekali yang beragama tapi tidak beriman pada Tuhan. Banyak yang tersesat di jalan hidupnya karena guru agama pun tidak memiliki karakter sendiri. membuat penafsiran Alquran atau Alkitab, menjadikan dirinya nabi yang maha mengetahui untuk memberikan dosis doktrin yang sebenarnya diluar dari ajaran.

Tetapi rasanya, jika sudah membicarakan pembenahan karakter akan susah rasanya, jika sekarang sudah banyak sekali orang yang memiliki kesalahan dalam berlogika ketika dewasa. Sudah terlalu banyak orang yang salah dalam berlogika, jika harus membenahi dari awal untuk memulai rasanya sudah terlambat. Buat saya sudah terlambat.

Sempat tebersit di pikiran saya, rasanya saya malu pada ateis. Mereka yang tidak percaya Tuhan, tidak perlu membela Tuhan dengan segitu meriahnya seperti yang masyarakat kita lakukan saat ini. Malu melihat ateis yang hidupnya tenang-tenang saja dan memiliki toleransi tinggi terhadap umat beragama lain.

Malah kita yang beragama sibuk menyalahkan sikap dan jalan pikiran dari masing-masing rival, dan menyalahkan mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Seakan-akan kita adalah utusan Tuhan yang menyayangkan ketidakpercayaan mereka pada Tuhan.

Para ateis sibuk menjaga toleransi, kita sibuk membela diri. Kita sibuk membela Tuhan, padahal Tuhan tidak perlu dibela. Kita sibuk untuk mencari kebenaran dari sejarah agama kita, ateis sibuk dengan sikap produktif yang dilakukan di hidupnya untuk masa depan mereka. malu sebenarnya, punya label agama A, B, C tetapi kelakuannya seperti binatang jalang yang tidak memiliki Tuhan.

Kita sibuk menyalahkan tradisi agama lain, lupa bahwa ada saudara kita butuh kepedulian kita.

Kita seperti lebih ateis daripada mereka yang kita kenal tidak percaya pada Tuhan. Yang lebih parahnya, kita percaya Tuhan tetapi kita tidak menunjukkan hal tersebut. Pemerkosaan terjadi di mana-mana, penafsiran Alquran dan Alkitab yang salah, kekerasan terjadi di mana-mana mengatasnamakan agama, penghinaan kepada Tuhan dengan membakar Alquran ataupun Alkitab, dan masih banyak penghinaan yang lainnya. 

Pertanyaannya, sekarang siapa yang lebih ateis? Kita yang beragama atau mereka yang penganut ateis itu sendiri?

@emiliani monika paramita


 Alumni Politeknik Negeri Malang.

Ahok dan Agenda Revolusi Rizieq

DUNIA HAWA - Aksi damai 411 dan 212 telah sukses dilakoni dengan mengusung tema besar “Aksi Bela Islam” (ABI) dan Ahok sebagai sasaran tembak. Kedua aksi damai ini sama hebatnya, karena berhasil melibatkan puluhan ribu massa yang datang dari berbagai daerah. Atas kesuksesan ini kita perlu memberikan apresiasi dan acungan jempol kepada seluruh aktor Aksi Bela Islam jilid 2 dan jilid 3.


Kita tahu bahwa aksi damai 411 dan 212 pecah berawal dari masalah politik murni yang dibalut selubung agama.  Persoalan politik dipelintir menjadi persoalan keagamaan. Dan dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok menjadi jalan tol untuk menjegal Ahok. Ini adalah agenda dan intensi busuk yang sengaja dihembuskan dan menjelma menjadi badai aksi berjilid.

Persoalan Ahok sederhana adanya, tidak ada yang luar biasa tetapi sontak menjadi booming setelah persoalan ini diulik-ulik dan ditambah bumbu agama. Kelebihan bumbu agama dalam persoalan ini menghilangkan rasa toleransi, persatuan dan kesatuan menjadi tidak sedap dan disuguhkan hamber serta basi adanya.

Hemat saya, persoalan ini bisa diselesaikan secara hukum dan tidak harus menimbulkan masalah baru apa lagi harus menyuarakan revolusi, konyol kan? Namun semuanya sudah terlanjur basi, nasi sudah menjadi bubur, aksi damai 411 dan 212 telah dilancarkan, Ahok telah menjadi bulan-bulanan dan negarpun turut linglung. Apa masalahnya

Problemnya adalah pemanfaatan isu SARA oleh sekelompok orang  yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Ahok, apalagi Ahok datang dari kalangan minoritas, maka sentimen agama antara minoritas dan mayoritas menyeruak ke permukaan.

Citra yang terbenam dalam batok kepala sejumlah pihak dengan menyeret agama ke dalam urusan politik merusak tatanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Agama minoritas dilarang mendominasi agama mayoritas, agama minoritas dilarang menjadi pemimpin di wilayah yang agamanya mayoritas,” negara macam apa Indonesia?

Hemat saya, ini adalah bentuk dominasi penuh muslihat yang mampu melahirkan kekerasan dan diskriminasi antara Suku, Ras dan Agama. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Haryatmoko, “Dominasi yang menyebabkan adanya konflik dan kekerasan dalam masyarakat, yaitu dominasi politik, dominasi agama, dominasi wacana, dominasi simbolis dalam pendidikan, dominasi ekonomi dan dominasi uang.”

Ingat bahwa Indonesia bukan negara agama, sekalipun mayoritas penduduknya beragama muslim. Dalam konteks politik mesti diakui bahwa konstitusi kita di Indonesia tidak membatasi hak dan kebebasan setiap warga negara untuk dipilih menjadi pemimpin. Dengan demikian Ahok punya hak untuk memimpin DKI Jakarta jika terpilih dalam pemilu di bulan Februari 2017 mendatang.

Saya tidak akan mengupas lebih dalam soal peristiwa “Aksi Bela Islam” yang berhasil menyedot perhatian publik, menguras tenaga dan biaya yang begitu tinggi. Dalam tulisan ini saya sekadar mengajak kita untuk sejenak menoleh ke belakang untuk melihat dan merefleksikan sekaligus memberikan catatan kritis atas agenda aksi damai 212 dan agenda revolusi Rizieq yang sedang didengungkan.

Sepintas terlihat  ada ketegangan di awal ketika Rizieq mengumumkan akan ada aksi lanjutan untuk mendesak negara segera menahan Ahok setelah ditetapkan sebagai tersangka. Aksi damai yang semula dijadwalkan 2511 digeser ke 212. Atas rencana aksi damai 212  POLRI dan TNI sebagai simbol keterwakilan negara secara tegas melarang peserta demo untuk turun ke jalan dan beribadah di jalan.

Negara melalui POLRI secara tegas menghimbau kepada penduduk DKI Jakarta dan sekitarnya, agar demo 212 tidak melintasi jalan-jalan protokol, karena dapat mengganggu lalu lintas dan aktivitas ekonomi warga.

Tidak tanggung-tanggung POLRI, menyebarkan selebaran via udara menggunakan helikopter, dengan tujuan untuk meredam niat warga DKI Jakarta dan sekitarnya untuk turun ke jalan dalam aksi damai 212.  Tidak ketinggalan elite-elite politik di republik ini  turut memberikan gagasan-gagasan cemerlang untuk meredam niat Rizieq dan kelompoknya dengan agunan Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Namun upaya-upaya yang telah dilakukan sejumlah kalangan untuk meredam gejolak massa yang akan turun ke jalan saat aksi damai 212 tak kunjung berhasil. Kelompok aksi tandingan pun turun ke jalan, menyatakan sikap menolak aksi damai 212, tetapi  tetap saja tidak mempan, rupanya Rizieq masih lebih berpengaruh jika dibandingkan yang lain.

Di sela-sela upaya untuk mencegah terjadinya aksi damai 212, Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab, menyatakan bahwa menyampaikan aspirasi melalui demo adalah hak setiap warga negara, apabila ada pihak-pihak yang melarang atau menghalang-halangi aksi damai 212 akan dipolisikan.

Kata-kata Rizieq sungguh memiliki kekuatan yang luar biasa, berbisa dan memiliki daya pikat yang tak terbantahkan. Seketika itu juga komitmen POLRI dan TNI untuk membatasi warga DKI Jakarta dan daerah sekitarnya turun ke jalan mengendur dengan sendirinya. POLRI dan TNI harus merenda kalau tidak mau dikatakan mengalah di hadapan kekuatan Rizieq dan kawan-kawan.

Satu pertanyaan yang boleh saya lontarkan untuk memecah kebuntuan yang kini berkecamuk dalam diri saya: “Mengapa negara melamah dan tunduk di bawah kekuatan sekelompok orang yang berjuang mengatasnamakan agama? Apakah negara sudah kehabisan akal dan cara untuk meredam gelombang masa yang berdatangan dari berbagai daerah untuk mengikuti aksi damai 212?"

Ya, mungkin negara punya intrik jitu dengan mengusung prinsip, “mengalah untuk menang”. Problemnya, situasi ini akan dibaca dan dilihat seolah-olah negara tunduk dan melemah di bawah tekanan dan kekuatan massa Aksi Bela Islam yang sudah memasuki jilid ke-3 (tiga). Ketidaktegasan negara dalam menyelesaikan persoalan ini merupakan preseden buruk, karena negara mudah diombang-ambingkan, dikendalikan dan diarahkan.

Gejala ini tampak jelas dalam beberapa kejadian antara lain, proses penyelesaian masalah dugaan penistaan agama yang melibatkan Ahok di percepat (maraton), negara bingung menentukan model persidangan apakah terbuka atau tertutup. Buah dari tuntutan dan desakan kelompok-kelompok Bela Islam, Ahok resmi menyandang predikat baru sebagai tersangka.

Menyandang gelar sebagai tersangka yang disematkan pada Ahok belum memenuhi rasa keadilan di mata kelompok Aksi Bela Islam,  karena penistaan agama yang dilakukan Ahok ditengarai telah melukai hati umat muslim. Kelompok Aksi Bela Islam masih punya ruang dan argumen yang kuat menuntut negara untuk menahan Ahok. Ketidaktaatan negara terhadap tuntutan kelompok Aksi Bela Islam melahirkan agenda aksi damai 212.

Hampir semua isi tuntutan dan desakan yang dikumandangkan oleh kelompok Aksi Bela Islam saat aksi damai 411 dan 212 sudah dijawab oleh negara. Negara telah benar-benar melaksanakan mandat warga negara, sebagai bentuk pelayanan yang paling prima. Namun satu dosa negara adalah belum berhasil menahan Ahok setelah ditetapkan sebagai tersangka beberapa waktu lalu.

Atas kegakalan negara dimaksud, setelah aksi damai 212, Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab kembali bertitah, “Tidak akan ada lagi Aksi Bela Islam 4 (empat), tetapi yang ada adalah revolusi, bila tersangka penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dibebaskan.”

Tandas Rizieq (www.postmetro.co), “Jadi jangan coba-coba. Maka saya teriak revolusi. Siap turun lagi. Jadi jangan turun lagi di Istana, Monas, HI, langsung kita sambangi ke Gedung DPR/MPR.” Titah Rizieq tersebut di atas laksana canang yang gemercing dan gong yang berkumandang. Ini sebagai peringatan keras yang dialamatkan kepada negara, setelah negara tunduk dan taat pada titah Rizieq.

Rizieq telah meraih kesuksesan besar setelah berhasil mendesain aksi damai jilid 1, jilid 2 dan jilid 3. Ini menunjukkan negara takluk dan terlibat dalam drama yang dilakoni Rizieq dan kelompok Bela Islam. Rizieq  berhasil menggarap isu agama menjadi mega proyek dengan bayaran termahal dan jumlah peserta aksi terbanyak. Akhinya presiden Joko Widodo pun ambil bagian dalam aksi 212, walau sekadar say hello. Hebat, kan?

Setelah Rizieq merengkuh kesuksesan dalam mengemas aksi 411 dan 212, pertanyaan lanjutan yang mesti kita simak: "Apakah agenda revolusi Rizieq akan terwujud?" Kita tunggu episode berikutnya.


@yulius regang