••• blibli

CRYPTO TRADING EXCHANGE
EXCHANGE TERBAIK di INDONESIA
Mari Berbagi Informasi Dunia Crypto

Tuesday, January 2, 2018

Semoga Habib Rizieq Jadi Wakil Jokowi


DUNIA HAWA “Wakil presiden adalah seorang muda yang dinilai publik sebagai INTERNASIONALIS di bidang EKONOMI dan PERDAGANGAN untuk membawa kebijakan MIKRO dan sektor RIIL serta BISNIS. Elektabilitasnya datang dari PARTAI ISLAM..”

Begitulah kata AM Hendropriyono mengangkat prediksi kriteria calon Wakil Jokowi nanti..

Kalau tadi saya mengangkat nama Chairul Tanjung dengan kriteria yang cocok sesuai prediksi Hendropriyon, saya juga ingin mengangkat salah satu tokoh yang dirasa cocok sebagai pendamping Jokowi nanti.

Siapa dia? Dialah Imam besar umat Islam Yang Mulia Habib Rizieq Rahimullah. Kalau melihat sisi elektabilitas dari partai Islam, tentu beliau sangat cocok sekali. Karena beliau ini sangat mewakili Islam yang ramah, santun dan berahlak sehingga cocok menjadi panutan.

Partai-partai Islam tentu terwakili oleh beliau ini supaya Islam semakin jaya.

Dari sisi sektor usaha riil dan bisnis, pun kena.

Beliau jugalah yang memerintahkan untuk memboikot ekonomi orang-orang kafir dan membangun ekonomi Islam. Boikot Sari roti, maka muncullah Roti Umat Islam. Boikot minimarket kafir, maka muncullah 212 mart.

Dan terakhir langkah yang sangat mengerikan orang kafir adalah boikot media sosial seperti Facebook. Diperkirakan ada 50 juta orang yang akan pindah ke media sosial milik umat Islam dan itu akan menyebabkan Facebook merugi triliunan juta dollar.

Dalam waktu 3 tahun lagi, Facebook bisa dibeli dan diganti nama yang lebih syariah menjadi Fesbukiyah..

Dalam sisi kebijakan ekonomi dan perdagangan mikro, juga beliau tepat.

Kebijakan yang sangat mikro seperti demo-demo akan meningkatkan perekonomian umat Islam yang masih banyak menganggur.

Harga demo akan naik, seiring naiknya popularitas. Yang awalnya 50 rupiah per orang per hari, naik jadi 57 rupiah. Memang kurang signifkan naiknya, tapi lumayanlah daripada gak ada kenaikan apa2. Yang penting ordernya selalu ada..

Tapi dari konsumsi jelas ada kenaikan, biasanya nasi bungkus karet dua naik pangkat jadi nasi kotak dari RM Padang Sederhana. Sambalnya juga banyakan...

Dalam sisi perdagangan juga tampak hasil yang didapatkan. Penjualan micin curah meningkat pesat, mulai dari yang oplosan sampai yang murni dalam bentuk sasetan.

Micin ini semakin meningkatkan intelejensia orang Indonesia supaya lebih taat kepada ulama..

Yang paling pas adalah dari sisi Internasionalis..

Beliau sudah membuktikan betapa internasionalnya beliau, bahkan ketika banyak orang yang meragukannya.

Lamanya beliau di negeri orang dan tidak pulang-pulang adalah bukti bahwa internasional mengakui eksistensinya. Dan itu juga menunjukkan jihad beliau bahwa “Tidak akan pulang sebelum mendapat nama..”. Mirip orang Batak perantauan..

Jadi apalagi yang kurang?

Beliau juga sesuai dengan kesukaan pak Jokowi, tidak berisik, profesional dalam bekerja dan tidak sibuk tampil di media massa..

Karena itu kita harus dukung Imam Besar Habib Rizieq kelak menjadi calon Wakil Presiden Jokowi sesuai dengan kriteria yag ada..

Yang meragukan beliau, semoga dapat hidayah..

Bagaimana pak Sandi, setuju?

“Eee saya rasa eee itu harus di komunikasikan ee dengan visualisasi yang ee sesuai dengan program eeee bi narti tak tun tuang tak tun tuang...”


Zzzz zzz... grok.

@denny siregar 

Monday, January 1, 2018

Strategi Ormas Radikal di Tahun 2018


DUNIA HAWA Tahun 2017 adalah tahun pukulan terberat bagi kelompok garis keras dan pendukung khilafah. Sejak menjabatnya Kapolri Tito Karnavian pada Juli 2016, kepolisian langsung memfokuskan dirinya pada gerakan terorisme global yang menunggangi ormas-ormas agama.

Sejak demo besar 411 dan 212, terlihat profesionalisme kepolisian dalam menahan gelombang supaya tidak menjadi chaos.

Beberapa tokoh yang dianggap memicu keributan pun ditangkap -meski kemudian dilepaskan- sekedar untuk meredam nyala api yang lebih besar lagi.

Salah satu pentolan terpaksa kabur keluar negeri - dan belum balik sampai saat ini. Polisi cenderung membiarkan dan tidak menangkapnya, karena tidak ingin menjadikannya lebih besar dan menjadi pahlawan di mata orang awam agama.

Juli 2017, Presiden mengeluarkan Perppu Ormas yang menjadi titik pembubaran HTI, organisasi agama militan yang menolak NKRI.

HTI kemudian tiarap, tapi terus memasarkan ideologi khilafah dengan menyebarkan tokoh-tokoh sentral mereka untuk berdakwah. Rencana busuk ini tercium oleh Banser dan Ansor yang menghadang mereka di setiap acara.

Gundah gundala karena tokoh-tokoh mereka “terpenjara” oleh situasi, kelompok garis keras dan pendukung khilafah pun memunculkan tokoh baru.

Tokoh baru ini dibesarkan di media sosial dan melalui framing-framing media untuk menaikkan pamornya. Tujuan besarnya adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama.

NU memang ormas yang secara langsung berhadap-hadapan dengan kelompok garis keras dan pecinta khilafah ini.

Tidak mampu menghadapi NU secara head to head, mereka ingin merebut NU dari dalam dengan membangun seorang tokoh yang berwajah NU. Tokoh ini diharapkan satu waktu bisa menjadi Ketum PBNU dan bisa ditunggangi untuk kepentingan mereka.

Banyak yang bersimpati kepada tokoh ini, begitu juga dari kalangan Islam moderat.

Mereka tidak paham agenda sebenarnya, karena tokoh ini dianggap perwakilan NU untuk menyatukan ormas Islam di Indonesia, baik yang dari kalangan fundamentalis maupun tradisionalis.

Strategi ini mirip dengan pernyataan HRS di Saudi, “bahwa kelompok Islam di Indonesia terbagi dua, yaitu yang fundamentalis dan tradisionalis..” HRS bercita-cita ingin memfundamentaliskan kelompok Islam tradisional.

Pukulan terberat bagi kelompok garis keras datang dari Majelis Ulama Indonesia. MUI adalah badan yang mereka harapkan bisa menjadikan aksi mereka sah dan legal. Mereka pernah melakukan ini dengan membentuk Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI.

Sayangnya, MUI kemudian menyadari penunggangan ini dan melepaskan diri dari pemakaian nama lembaganya untuk kepentingan politik mereka. MUI malah tidak terikut dengan gerakan “boikot natal” mereka dan mempersilahkan umat Islam untuk mengucapkan selamat Natal.

Boikot Natal adalah salah satu agenda untuk memperuncing pertikaian antara agama Islam dan Kristen, dan diharapkan berdampak di daerah-daerah yang pernah terluka karena pertikaian antar agama, seperti Poso misalnya.

Hari ini tanggal 1 Januari 2018, sebuah bom molotov dilempar dan meledak di Kantor Polsek Bontoala, Sulsel. Kapolsek dan satu anak buahnya menjadi korban.

Kemungkinan besar bom molotov ini direncanakan untuk menyerang gereja di sana, seperti yang pernah mereka lakukan terhadap gereja Oikumene di Samarinda yang menewaskan satu balita bernama Intan Olivia.

Tetapi pengamanan yang begitu ketat di gereja-gereja oleh kepolisian dibantu dengan Banser dan Ansor, membuat kelompok ini mengalihkan sasarannya kepada institusi yang sangat mereka benci yaitu kepolisian.

Penggunaan bom molotov di polsek ini, menunjukkan bahwa kelompok garis keras ini sebenarnya galau dan panik. Mereka tidak bisa lagi memproduksi bom dengan kekuatan besar karena peredaran bahan-bahannya di pantau sangat ketat.

Nah, apa kira-kira yang agenda mereka di 2018 ini? Kita lihat catatan berikutnya setelah ini

Apa kira-kira strategi yang akan dilakukan oleh kelompok garis keras dan pendukung khilafah di tahun 2018 ini?

Mari kita analisa sesuai dengan pola-pola yang mereka bangun sebelumnya.

Salah satu senjata andalan dan mesin perang utama mereka adalah Framing atau POP (Pembentukan Opini Publik) melalui media sosial.

Kelompok ini memang solid dan militan, Mereka juga menguasai teknologi bot atau mesin otomatis untuk menyebarkan hoax, komen melalui akun-akun palsu mereka yang sangat banyak.

POP ini mereka gunakan untuk dua hal:

1. Mengangkat tokoh yang sealiran dengan mereka.

2. Menghancurkan karakter tokoh yang berseberangan dengan mereka.

Kita bahas dulu yang pertama, MENGANGKAT TOKOH.

Salah satu cara yang mereka lakukan -dan polanya selalu sama- adalah membesarkan berita meski jauh dari fakta sebenarnya.

Seperti contoh ketika mereka membesarkan aksi dengan kata “jutaan, puluhan juta”. Ini penting untuk membangun kedigdayaan dan menunjukkan “besarnya” mereka.

Begitu juga kata “umat Islam dan ulama” yang mereka klaim sebagai milik mereka. Dan yang paling sering mereka mainkan adalah dikotomi “Mayoritas dan Minoritas”.

Mereka bermain di JUDUL BERITA, karena paham bahwa banyak orang Indonesia hanya membaca judul bukan isi beritanya. Judul harus bombastis, untuk membiaskan isi berita sebenarnya.

Coba sekali-kali lihat Youtube videonya Zakir Naik. Judulnya saja sudah bombastis, “AllahuAkbar, Zakir Naik mengIslamkan ribuan orang!!”, meski isi videonya hanya berupa tanya jawab saja.

Strategi itu mereka gunakan juga untuk mengangkat seorang yang mereka sebut Ustad atau Ulama, bahkan kalau perlu seorang Panglima, yang sealiran dengan mereka.

Mereka butuh simbol-simbol dan terus memunculkan simbol baru jika simbol lama sudah tenggelam. Kemaren ZakirNaik, trus Panglima, sekarang UAS.

Sedangkan simbol lama mereka kabur gak pulang-pulang..

Yang kedua, MENGHANCURKAN KARAKTER TOKOH..

Penghancuran karakter tokoh yang berseberangan dengan mereka, perlu dilakukan..

Tujuannya adalah pertama, supaya tokoh tersebut terintimidasi dan berhenti bicara, dan kedua supaya orang tidak percaya dengan kredibilitas tokoh tersebut..

Sama seperti mengangkat tokoh, dalam menghancurkan karakter tokoh, mereka butuh sebuah momen..

Sebagai contoh ketika mereka menghancurkan nama Banser dan Ansor sebagai “pembubar pengajian”.

Mereka tidak mau melihat fakta bahwa yang dibubarkan adalah pembicara berpotensi memecah belah. Mereka paham, bahwa orang awam atau “umat buih di lautan” akan termakan propaganda mereka.

Mereka bukan hanya menghancurkan karakter tokoh, tapi juga membenturkannya dengan tokoh lain.

Contoh paling dekat adalah ketika mereka mencoba menghancurkan karakter Kapolri dan mencoba membenturkannya dengan Panglima TNI.

Inilah senjata yang masih akan mereka pakai di tahun 2018 ini.

Model judul berita seperti PKI, PRIBUMI, CHINA, NON MUSLIM, MINORITAS, masih akan mereka pakai di tahun ini. Mereka akan mengadakan gerakan di lapangan dan membangun beritanya dengan bahasa yang dibesarkan di dunia maya..

“Bagaimana caranya bisa menghadang strategi itu?” Tanya seorang teman.

Gunakan pola yang sama. Jangan malu untuk memainkan konsep Fight Fire with Fire...

Tidak cukup memadamkan api dengan air saja. Ketika sebuah kilang minyak terbakar, petugas pemadam harus meledakkannya hanya untuk memadamkannya.

Munculkan tokoh-tokoh, besarkan di media sosial melalui judul berita, hancurkan karakter tokoh mereka dan viralkan persatuan dan kesatuan berbangsa.

Tambah, tumbangkan akun-akun tokoh mereka..

PR terbesar melawan mereka adalah soliditas dan militansi. Kelompok yang melawan mereka biasanya dari kelas menengah dan mapan, sehingga tidak begitu perduli dengan situasi dan masih bangga akan gelar “Silent Majority”.

Bersambung ...

Malam Ini Indah Sekali


DUNIA HAWA 

“Apa keinginan papa tahun baru nanti?”.

Tanya anak lelakiku yang sedang menjelang dewasa. Kami sedang duduk melihat riuhnya kembang api meledak di udara.

Malam ini gelapnya terasa indah..

Aku tersenyum. Kulingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia sudah hampir setinggiku sekarang. Kami seperti dua bersaudara.

“Apa ya?” Senyumku menggodanya. Dia pun tersenyum menanggapiku.

“Papa sudah banyak menghapus keinginan papa. Sudah juga menghapus keinginan supaya kamu besar nanti jadi apa.

Banyaknya keinginan itu membuat papa dulu terpenjara. Papa ingin merdeka, mengalir seperti air, seperti apapun Tuhan menghendaki..”

Aku menatap ke langit, satu bola api berwarna-warni meledak lagi.

“Papa hanya ingin hidup lebih tenang dengan jiwa stabil. Tidak menggantungkan diri pada manusia lain, cukup dengan diri sendiri. Hidup berarti dan lebih berfungsi. Mengumpulkan banyak bekal amal sebelum mati..”

Anakku memandangku tanpa berkedip. Aku tersenyum, usianya masih sangat muda untuk mengerti.

Kuusap kepalanya dengan sayang. Jagoanku, hiduplah seperti seorang pendaki. Ia tahu kemana ia akan pergi, dan tahu berapa banyak bekal yang harus ia bawa nanti..

“Kamu punya keinginan apa tahun baru nanti?”, Tanyaku kepadanya.

Dia melempar batu kecil yang sedari tadi digenggamnya. Lalu menatap langit yang kembali berwarna-warni.

“Aku pengen seperti papa...”

Hening. Kutatap dia dari samping. Tidak ada yang lebih indah hati seorang ayah, ketika ia bisa menjadi inspirasi bagi anak lelakinya.

Kami kembali bersama menatap langit. Malam ini, malam yang indah sekali

@denny siregar 

Wednesday, December 27, 2017

Suara Monyet dari Surga


DUNIA HAWA Kenapa kelompok atau orang-orang yang mengaku agamis itu banyak yang mulutnya sangat kotor? Lihat saja komen-komen mereka. Berbagai macam makian dan kata buruk mereka lontarkan di page saya. Mulai bahasa lonte, anjing sampai yang lebih mengerikan seperti penggal dan bunuh.

Padahal ketika saya iseng ngintip profile mereka, di status mereka banyak yang berdoa, pasrah dan mengutip ayat dan hadis.

Kenapa bisa begitu bertolak belakang antara apa yang mereka yakini dan apa yang mereka perbuat?

Jawabannya adalah karena mereka mengikuti pemuka agama yang berpakaian ulama tapi bersifat iblis. Saya dulu pernah menulis dengan judul “Iblis berbaju ulama”.

Loh kok bisa begitu?

Kalau mau kembali melihat sejarahnya iblis, dia adalah mahluk yang sejatinya taat beribadah kepada Tuhan. Hanya karena kesombongannya, ia pun menjadi mahluk yang terkutuk.

Jadi, jangan coba tandingkan tauhidmu dengan iblis. Mayoritas manusia akan kalah jika diukur dari ritualnya. Iblis sudah beribadah kepada Tuhan 60 ribu tahun lamanya sebelum manusia pertama diciptakan..

Karena itu, iblis fasih ketika berbicara agama. Bahkan juga sangat fasih dalam memuji Tuhan.

Lalu apa yang membedakan iblis dengan ulama sebenarnya yang mengikuti Nabinya?

Jelas, AKHLAK.

Akhlak-lah yang menjadi pembeda, manakah manusia yang beragama untuk mencapai sifat keTuhanan dan mana manusia yang berTuhankan agama.

Iblis boleh mencapai ketinggian maqom ritual, tetapi ia miskin spiritual. Agama membuat jiwanya kering dan tandus, karena ia tidak pernah mengerti yang namanya MAKNA. Ia boleh canggih dengan ilmu yang ia miliki tapi tidak sedikitpun ia paham apa yang diucapkannya.

Sejatinya, pengetahuan itu seperti padi.

Semakin banyak isinya, ia akan semakin merunduk. Pemahamannya luas dan ia tidak akan sanggup sombong karena akhirnya mengetahui bahwa ia bukanlah apa-apa.

Nah, tangkai padi yang tegak ngacengan itu pasti gada isinya apa-apa..

Akhirnya, karena kosongnya ilmu tapi ia merasa berisi, yang keluar hanyalah caci maki tanpa ilmu sama sekali. Copas dan share ayat atau hadis tanpa pernah mencoba memahami apa yang ia bagikan.

Hanya dengan begitu saja ia merasa paling beriman dan meras sebagai golongan yg pasti masuk surga. Menyedihkan memang...

Bahkan makna tulisan inipun ia tidak paham.

Kesombongannya menutup dirinya dari nasehat baik yang sebenarnya berguna baginya. Kabut di akalnya begitu gelap sehingga cahaya setitik pun tudak bisa masuk meneranginya.

Yang terjadi, ia akan kembali mencaci. Percayalah..

Ia juga tidak paham apa itu secangkir kopi. Buatnya ketika air panas, berwarna hitam, ada manisnya, dan orang mengatakan “itu kopi”, ia akan mempercayainya. Bahkan jika sebenarnya yang dihidangkan di depannya adalah air comberan..

Meski begitu, kita harus menerima keberadaan mereka di sekitar kita. Anggap saja kita ada di sebuah taman. Ada suara jangkrik, suara burung, suara angin. Suara monyetpun ada. Eh, seruput dulu ah

@denny siregar